Senin, 08 Agustus 2011

Fokus pada Resesi Ganda, Emas Semakin Perkasa

INILAH.COM, Jakarta – Setelah S&P men-downgrade peringkat kredit AS, pasar fokus pada resesi ganda yakni penyebaran krisis Eropa dan resesi AS. Investor pun, gencar beralih ke aset safe haven. Emas pun semakin perkasa.

Analis Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, situasi buruk diperkirakan pasar sudah terjadi. Analis sebelumnya sudah menanti-nanti tindakan dari lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Rating Service (S&P) yang berencana men-down grade peringkat utang AS.

Penantian itu, lanjutnya, menjadi kenyataan, setelah Kongres AS menyetujui kenaikan batas atas utang (debt ceiling) AS sebesar US$2,1 triliun dari level US$14,3 triliun dan pemangkasan anggaran sebesar US$2,4 triliun. “Down grade, justru dilakukan S&P setelah AS merilis data non-farm payrolls sedikit di atas ekspektasi 117 ribu dari perkiraan 85 ribu,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/8).

Peringkat utang AS diturunkan dari level AAA ke AA+. Karena itu, lanjut Daru, kekhawatiran pasar semakin merajalela. Sebab, down grade AS didukung oleh buruknya kondisi fundamental ekonomi sehingga makin mendera negara adidaya itu. Di pasar pun terjadi aksi panic selling untuk dialihkan ke aset-aset yang jauh lebih aman (safe haven) seperti emas dan Swiss Franc. “Fokus pasar saat ini adalah AS memasuki resesi kembali,” ungkapnya.

Pasalnya, menurut Daru, membaiknya data tenaga kerja di luar sektor pertanian saja tidak berdaya meredam kekhawatiran pasar yang bergejolak. Apalagi, data Gross Domestic Product (GDP) memburuk pada kuartal II-2011, sektor manufaktur, belanja konsumen dan penurunan peringkat. “Pasar melihat, negara Adidaya yang besar saja peringkatnya diturunkan,” ujar Daru.

Pasar saat ini, cemas atas kelanjutan kondisi utang AS yang rasionya sudah mencapai 111% terhadap PDB senilai US$14,66 triliun. Ketidakpastian ekonomi global pun kembali menguat. Sekarang, pasar menantikan Selasa (9/8) yaitu soal keputusan suku bunga dari The Fed. “Meski suku bunga AS dipastikan ditahan di level 0-0,25%, tapi, pasar mengkhawatirkan statemen yang akan dikeluarkan Gubernur The Fed Ben Bernanke,” tuturnya.

Pasar ingin melihat, apakah Bernanke mengindikasikan Quantitative Easing (QE) ketiga atau langkah pelonggaran moneter lainnya. “JIka tidak ada sinyal QE, akan memberi sinyal buruk untuk bursa saham, sehingga akan memicu peralihan investasi ke emas dan emas akan menguat lebih jauh,” paparnya.

Pada saat yang sama, pasar juga khawatir dan fokus terhadap resesi ganda yakni resesi Amerika dan penyebaran krisis utang di zona Eropa. Calon negara yang akan terpapar krisis utang adalah Spanyol, Italia, Portugal dan Irlandia. “Dalam waktu dekat, European Cenral Bank (ECB) sudah menyepakati untuk mengintervensi Italia, dengan syarat pemerintah Italia turut merekondisi tatanan ekonomi negaranya,” paparnya.

Di atas semua itu, setelah emas memasuki level US$1.700 dengan lancar, level-level penguatan berikutnya juga akan mudah ditembus. Level US$1.710 dengan mudah ditembus tidak sampai 1 jam dari level 1.698 per troy ounce dengan level tertingginya di angka US$1.714,79 pada Senin (8/8).

Berdasarkan Fibonacci Projection, penguatan emas berikutnya untuk jangka pendek ke level US$1.720 dan US1.740-1.750 untuk pekan ini. Tapi, jika permintaan naik tajam, level ini bisa dicapai tanpa harus menunggu akhir pekan ini. “Mungkin, pada Rabu (10/8), level tersebut sudah tercapai,” ungkapnya.

Apalagi, indikator Moving Average, Stochastic, dan Moving Average Convergence-Divergence (MACD), semuanya menunjukkan penguatan emas. “Tapi, dilihat dari faktor risiko, harga emas bisa saja terkoreksi seperti yang terjadi Kamis (4/8). Setelah mencetak rekor tertinggi di level US$1.681, ‘tidak ada angin tidak ada hujan’, harga emas tiba-tiba merosot tajam 4.000 poin ke level US$1.639,” ungkap Daru.

Kondisi ini, lanjutnya, cukup mengguncang pasar. Ternyata, setelah diteliti, kondisi itu dipicu oleh profit taking investor yang sedang melakukan diversifikasi investasi untuk menutupi kerugian pada investasi lain. “Karena itu, pemegang emas harus mewaspadai aksi jual secara massif,” ucapnya.

Sementara itu, dengan asumsi harga di level US$1.715, level support emas berada di US$1.700. Jika tembus, support berikutnya US$1.689,15 (dibulatkan 1.690) yang merupakan level Fibonacci Retracement 38,2% apabila terjadi koreksi dari angka tertingginya US$1.714-1.715. “Koreksi berikutnya di level US$1.681,25 (Fibonacci Retracement 50%). Berikutnya, di level US$1.670 yang merupakan harga tertinggi Jumat (5/8),” urai Daru.

Daru menyarankan, dalam situasi harga emas yang terlalu tinggi, bagi yang sudah punya posisi lebih baik hold saja. Tapi, bagi yang baru cari posisi, bisa beli di level US$1.700 atau di level US$1.689. “Jika berspekulasi, bisa menunggu aksi profit taking seperti yang terjadi pada 4 Agustus 2011,” imbuh Daru. [mdr]

sumber :
www.inilah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar