INI.AH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sampai dengan Mei 2011, nilai remitansi (inflow worker remittance) sebesar US$559,36 juta.
Demikian dituturkan Deputi Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Senin (1/8). "Potensi devisa TKI di luar negeriper Juni 2011 berjumlah 44.241," tukasnya.
"Nilai remittance tersebut berasal dari TKI yang berada di kawasan Asia sebesar 57,5% terutama Malaysia dan Timur Tengah dan Afrika sebesar 40,3% , sedang Eropa dan Amerika Serikat 2,1%," imbuhnya.
Menurut Darmin, TKI menjadi salah satu target implementasi edukasi keuangan karena jumlah yang signifikan dan semakin meningkat. "Edukasi kepada mereka harus terus dilakukan agar devisa yang disumbangkan TKI kepada perekonomian Indonesia dapat lebih optimal," ujarnya.
Salah atu upaya yang dilakukan untuk edukasi terhadap TKI, BI dan Kemenakertrans menandatangani Kesepakatan bersama edukasi Keuangan dalam rangka pemberdayaan Tenaka Kerja Indonesia. Kesepakatan bersama ini dimaksudkan untuk mensinergikan program masing-masing pihak dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan TKI dalam melakukan perencanaan keuangan untuk meningkatkan kesejahteraah TKI dan keluarganya. [cms]
sumber :
www.inilah.com
Minggu, 31 Juli 2011
Kamis, 28 Juli 2011
Mengapa Soros Baru Pensiun Sekarang?
"Saya tidak yakin, orang-orang yang memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktu bepergian dan pelesiran dengan kapal pesiar, akan segembira yang mereka pikir. Akan ada banyak polesan. Sementara Anda berkonsentrasi pada kegiatan yang berarti, mereka dapat menimbulkan masalah seperti lainnya. "
INILAH.COM, Jakarta - George Soros kemarin diberitakan menutup dananya untuk investor luar. Pensiun ini tampaknya merupakan titik balik dari pemodal miliarder, yang usianya tidak bisa dikatakan muda lagi.
Dalam surat pemberitahuannya kepada kliennya di seluruh dunia, perusahaan Soros mengatakan hanya akan mengelola dana investasi milik keluarga di dalam negeri. Ini berarti, ia akan mengembalikan seluruh dana investor yang jumlahnya mencapai US$1 miliar.
Selain itu juga disebutkan, bahwa penyebab berhentinya usaha Soros adalah karena regulasi baru pemerintah AS yang dinamakan peraturan Dodd-Frank.
Dengan peraturan ini, Komisi Sekuritas dan Bursa AS memiliki wewenang memaksa para pengelola investasi asing dengan aset lebih dari US$150 juta (sekitar Rp1,2 triliun) untuk memberikan data mengenai perusahaan mereka, seperti jumlah dan kepemilikan dana, tipe klien, pegawai, aktivitas konsultasi hingga konflik kepentingan yang potensi muncul.
Sementara Soros akhirnya bisa mempersiapkan diri untuk melepas dokumen kerjanya, masih ada tiga miliarder senior di luar sana yang tampaknya memiliki setiap niat untuk mati dengan pekerjaan mereka, yakni investor Warren Buffett, Formula 1 supremo Bernie Ecclestone, dan raja media Rupert Murdoch.
Dengan kebetulan yang luar biasa, keempat pria tersebut ternyata tidak hanya memiliki semangat tak terpadamkan untuk bekerja, tetapi juga memiliki umur yang sama, yakni 80 tahun, dengan tanggal lahir yang hanya berselang beberapa bulan. Mereka ini kerap disebut Silver Foxes, yakni para pria yang menarik dan energik meski di usia tua.
Lalu, apa yang memicu mereka tidak menjadi seperti multijutawan lain, yang menetap dan mulai menghabiskan kekayaan mereka? Lebih tepatnya, kenapa mereka tidak bisa ini menyerahkan pekerjaan kepada generasi baru dan menikmati hidup?
Mereka tampaknya hanya tertarik pada pendapatan berikutnya, kesepakatan berikutnya dan kemenangan berikutnya. Bahkan, mereka tidak hanya mencari, tapi juga rindu akan tantangan berikutnya.
Skandal penyadapan telepon terakhir di News Corp mungkin menjadi hari paling menakjubkan untuk kehidupan Rupert Murdoch, tetapi juga sebagai seruan nyaring untuk kuda perang tua. Murdoch menegaskan bahwa ia "orang terbaik untuk membereskan masalah ini."
Begitu pula dengan Ecclestone, yang kini memiliki semua wolfpack nipping Formula 1 Wolfpack, tampaknya menikmati prospek drama pertempuran berikutnya.
Pierre van Goethem, wakil presiden dan penasihat keuangan UBS di Manhattan, yang juga salah seorang Silver Foxes mengatakan, beberapa orang adalah makhluk perusahaan, “Mereka hanya bermimpi untuk pensiun dengan kaya, sedangkan lainnya adalah profesional, yang bekerja karena gairah.” Demikian dilansir dari The Daily Beast.
Goethem telah bekerja di Wall Street selama 37 tahun, dan mulai aktivitasnya pukul 7.45 pagi, dan tidak pernah mengambil hari libur. Padahal usianya adalah 82 tahun.
"Banyak orang merasa terkungkung dengan kebosanan dan tidak nyaman dengan hidup, sehingga mereka menempatkan dirinya dalam posisi yang menyenangkan," kata van Goethem, yang tidak memiliki anak dan menjadi duda tahun lalu, setelah 40 tahun menikah.
"Bagi mereka, itu adalah satu-satunya cara mencapai tujuan. Bagi para manajer di Coca-Cola, Coke tidak pernah menjadi semangat. Mereka ingin membuat uang dan bermain golf. Mereka jauh dari apa yang saya sebut profesional, yang bergairah dengan apa yang mereka lakukan."
"Saya menikmati pekerjaan saya, dan jika pensiun, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan. Saya selalu membenci gagasan hobi. Saya pikir itu tidak masuk akal."
Van Goethem bekerja lima hari dalam sepekan, dan meskipun telah bepergian, tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan Manhattan lagi.
"Saya memiliki keseimbangan di Manhattan antara pekerjaan dan kehidupan sosial saya," katanya. "Saya bangun pagi-pagi, yang memungkinkan saya menelepon orang setelah makan siang di Eropa. Sekitar pukul 2:30 atau 3 sore, saya lelah dan pulang untuk tidur siang, kemudian saya akan siap lagi untuk apa pun."
"Saya tidak yakin, orang-orang yang memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktu bepergian dan pelesiran dengan kapal pesiar, akan segembira yang mereka pikir. Akan ada banyak polesan. Sementara Anda berkonsentrasi pada kegiatan yang berarti, mereka dapat menimbulkan masalah seperti lainnya. "
Untuk para profesional, pekerjaan merupakan tujuan utama dalam hidup mereka. Misalkan Rupert Murdoch, yang hidupnya adalah untuk media, bukan lainnya. “Orang-orang seperti Murdoch tidak bisa melakukan hal lain selain bekerja. Tidak mungkin. " [mdr]
sumber :
www.inilah.com
Bank Muamalat Targetkan Tambahan DPK Rp1 T
JAKARTA - PT Bank Muamalat Tbk menargetkan akan mendapatkan tambahan dana pihak ketiga (DPK) sekira Rp1 triliun dalam setahun dengan diluncurkannya kartu Shar-e Gold Debit.
Direktur Retail Bank Muamalat Adrian A Gunadi menambahkan, target jumlah kartu dalam setahun diperkirakan akan mencapai 300 ribu. "Di tahap pertama 300 ribu pemegang kartu. Ini akanmenyumbangkan terhadap DPK mininum Rp1 triliun," ungkap Adrian dalam konfrensi pers di Jakarta, Kamis (28/7/2011) malam.
Kartu Share-e Debit Muamalat sendiri bekerja sama dengan Visa sehingga nasabah bisa langsung belanja di merchant-merchant yang berlogo Visa di seluruh dunia.
"Ini sendiri untuk mengembangkan pasar ritel. Dengan kerja sama dengan Visa, Muamalat akan tingkatkan jumlah merchant. Bisa diakses ke seluruh dunia. Dan juga keamanan kartu ini sudah menggunakan chip. Ini terobosan untuk perbankan syariah di mana Muamalat jadi pioner kartu pertama teknologi chip," jelasnya panjang.
Menurut Adrian, kartu debit berteknologi chip baru digunakan dua bank. Untuk target pasar, dia mengaku akan mengejar masyarakat golongan menengah atas. Pasalnya saldo rata-rata antara Share-e reguler berbeda dengan Share-e Gold debit.
"Kartu ini segmennya menengah atas. Pembukaan awal minimum Rp500 ribu dengan saldo rata-rata rekening tidak kurang dari Rp8,5 juta. Jadi dengan segmen ini kita jalankan program reward dan loyalty," tambahnya.
Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia menjelaskan Visa adalah perusahaan penyedia sistem pembiayaan dan biasa digunakan di 170 negara di dunia yang menggunakan logo Visa.(wdi)
sumber :
www.okezone.com
Direktur Retail Bank Muamalat Adrian A Gunadi menambahkan, target jumlah kartu dalam setahun diperkirakan akan mencapai 300 ribu. "Di tahap pertama 300 ribu pemegang kartu. Ini akanmenyumbangkan terhadap DPK mininum Rp1 triliun," ungkap Adrian dalam konfrensi pers di Jakarta, Kamis (28/7/2011) malam.
Kartu Share-e Debit Muamalat sendiri bekerja sama dengan Visa sehingga nasabah bisa langsung belanja di merchant-merchant yang berlogo Visa di seluruh dunia.
"Ini sendiri untuk mengembangkan pasar ritel. Dengan kerja sama dengan Visa, Muamalat akan tingkatkan jumlah merchant. Bisa diakses ke seluruh dunia. Dan juga keamanan kartu ini sudah menggunakan chip. Ini terobosan untuk perbankan syariah di mana Muamalat jadi pioner kartu pertama teknologi chip," jelasnya panjang.
Menurut Adrian, kartu debit berteknologi chip baru digunakan dua bank. Untuk target pasar, dia mengaku akan mengejar masyarakat golongan menengah atas. Pasalnya saldo rata-rata antara Share-e reguler berbeda dengan Share-e Gold debit.
"Kartu ini segmennya menengah atas. Pembukaan awal minimum Rp500 ribu dengan saldo rata-rata rekening tidak kurang dari Rp8,5 juta. Jadi dengan segmen ini kita jalankan program reward dan loyalty," tambahnya.
Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia menjelaskan Visa adalah perusahaan penyedia sistem pembiayaan dan biasa digunakan di 170 negara di dunia yang menggunakan logo Visa.(wdi)
sumber :
www.okezone.com
Selasa, 26 Juli 2011
Krisis AS & Eropa Tak Bakal Pengaruhi Perkembangan Syariah
JAKARTA - Perlambatan ekonomi di negara maju nampaknya tidak akan berpengaruh pada perkembangan perekonomian bisnis syariah. Alasannya karena syariah banyak bergerak pada usaha kecil dan menengah (UKM).
Hal ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam acara permbukaan Joint High Level Confrence on Islamic Finance di Hotel Shangri La, Jakarta, Senin (18/7/2011).
"Rencana ke depan, sebetulnya perlambatan ekonomi karena apa yang terjadi di AS, maupun eropa dan bahkan mungkin di China, akan berpengaruh kepasar kita di Asean, Akan tetapi di indonesia pembiayaan syariah lebih pada usaha kecil dan menengah yang akan bertahan menghadapi krisis ini," jelas Darmin.
Oleh karena itu menurut Darmin Indonesia bisa belajar dari Malaysia untuk mengembangkan industri syariah ini.
"Malaysia sebetulnya sudah bergerak lebih dahulu. Pemerintah Malaysia juga memberi peranan yang sangat aktif di dalam pengambangan Islamic Finance ini. Sedangkan kita di Indonesia, kita lebih banyak mengandalkan kegiatan itu dari masyarakat, market driven," jelasnya.
Dan juga diadakannya confrence di Shangri La pada hari ini Darmin juga berharap ada kolaborasi pembiayaan antara perbankan syariah RI dan Malaysia, serta untuk meningkatkan kualitas industri syariah di Indonesia.
"Tujuan seminar atau konferensi ini adalah bagiamana supaya ada sinergi, ada kolaborasi antara pembiayaan atau perbankan syariah di RI dan Malaysia. Bagaimanapun juga kerja sama itu selain akan meningkatkan kualiti dari pembiayaan syariah, bisa juga memperluas pasar dan kerja sama regional selanjutnya," tambahnya.
"Kita juga ingin mengharapkan bahwa konferensi ini juga bisa berbicara mengenai hal hal yang lebih teknis syariah, yaitu masih ada perbedaan cara pandang, cara melihat, atau sikap dalam produk-produk tertentu di antara prinsip syariah yang dilihat dari sudut pandang para ulama di RI dan apa yang sudah berjalan," pungkasnya.
(wdi)
sumber ;
www.okezone.com
Hal ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam acara permbukaan Joint High Level Confrence on Islamic Finance di Hotel Shangri La, Jakarta, Senin (18/7/2011).
"Rencana ke depan, sebetulnya perlambatan ekonomi karena apa yang terjadi di AS, maupun eropa dan bahkan mungkin di China, akan berpengaruh kepasar kita di Asean, Akan tetapi di indonesia pembiayaan syariah lebih pada usaha kecil dan menengah yang akan bertahan menghadapi krisis ini," jelas Darmin.
Oleh karena itu menurut Darmin Indonesia bisa belajar dari Malaysia untuk mengembangkan industri syariah ini.
"Malaysia sebetulnya sudah bergerak lebih dahulu. Pemerintah Malaysia juga memberi peranan yang sangat aktif di dalam pengambangan Islamic Finance ini. Sedangkan kita di Indonesia, kita lebih banyak mengandalkan kegiatan itu dari masyarakat, market driven," jelasnya.
Dan juga diadakannya confrence di Shangri La pada hari ini Darmin juga berharap ada kolaborasi pembiayaan antara perbankan syariah RI dan Malaysia, serta untuk meningkatkan kualitas industri syariah di Indonesia.
"Tujuan seminar atau konferensi ini adalah bagiamana supaya ada sinergi, ada kolaborasi antara pembiayaan atau perbankan syariah di RI dan Malaysia. Bagaimanapun juga kerja sama itu selain akan meningkatkan kualiti dari pembiayaan syariah, bisa juga memperluas pasar dan kerja sama regional selanjutnya," tambahnya.
"Kita juga ingin mengharapkan bahwa konferensi ini juga bisa berbicara mengenai hal hal yang lebih teknis syariah, yaitu masih ada perbedaan cara pandang, cara melihat, atau sikap dalam produk-produk tertentu di antara prinsip syariah yang dilihat dari sudut pandang para ulama di RI dan apa yang sudah berjalan," pungkasnya.
(wdi)
sumber ;
www.okezone.com
Label:
bisnis syariah,
indonesia,
krisis as dan eropa,
malaysia
Kerjasama Industri Keuangan Syariah RI-Malaysia
Berbagi Pengalaman tentang Industri Keuangan Syariah dengan Tetangga
Wakil Presiden Boediono membuka konferensi keuangan syariah
Jakarta. Para pelaku usaha di bidang industri keuangan umumnya menyadari bahwa Indonesia adalah ladang subur bagi industri finansial berbasis syariah. Tahun lalu, pertumbuhan aset perbankan syariah di Indonesia mencapai 47%. "Jauh di atas tingkat pertumbuhan rata-rata pertumbuhan perbankan syariah global yang hanya berkisar 10% hingga 20%," tutur Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution. Fakta inilah yang mendasari langkah Bank Indonesia dan Pemerintah RI untuk terus berupaya meningkatkan porsi perbankan syariah, yang berdasarkan aset saat ini baru mencapai 3,1% saja dari total perbankan nasional.
Salah satu upaya itu adalah dengan belajar dari negeri jiran Malaysia, yang sudah jauh lebih maju daripada Indonesia dalam hal industri finansial berbasis syariah. Maka, Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia menyelenggarakan Joint High Level Conference on Islamic Finance. Wakil presiden (Wapres) Boediono membuka konferensi itu, Senin 18 Juli 2011 di Hotel Shang-Rilla Jakarta. Forum ini membahas berbagai soal. Mulai dari upaya penciptaan lingkungan ideal bagi industri keuangan berbasis syariah; standar akuntansi syariah; saling berbagi pengalaman teknis; pengembangan infrastruktur; harmonisasi regulasi; hingga pengembangan jaringan bisnis. Turut hadir dalam konferensi ini Raja Muda Perak Raja Nazrin Shah, duta besar negara-negara sahabat, serta para bankir-bankir syariah dari Indonesia dan Malaysia.
Wapres Boediono menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas penyelenggaraan konferensi yang menurutnya sangat penting ini. Sebab, industri keuangan berbasis syariah sudah menjdi tren global, bukan hanya tumbuh subur di negeri-negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Inggris, misalnya, berminat mengembangkan pasar sukuk, dengan total nilai sukuk mencapai US$ 19 miliar pada semester pertama 2011. Menurut laporan IDB-IFSB, April 2010, secara global, ada sekitar lima ratus Lembaga Keuangan Islam. Pertumbuhan aset lembaga-lembaga ini juga sangat pesat, dari US$ 639 miliar pada 2008, menjadi US$ 822 miliar pada 2009, tumbuh hampir 29%. Sebagai pembanding, dalam periode yang sama, seribu bank konvensional paling top di dunia mencapai pertumbuhan aset tahunan hanya 6%-7%.
Agar tidak tertinggal dari perkembangan pesat ini, Indonesia memang harus belajar dari Malaysia. Negeri jiran ini adalah salah satu pemain penting yang sudah cukup berhasil mengembangkan industri finansial berbasis syariah. Malaysia sudah mengembangkannya sejak 1983, hampir sepuluh tahun lebih dahulu daripada Indonesia. Kini Malaysia adalah pemain utama di pasar sukuk, obligasi dengan prinsip syariah, di pasar global. Dari total penerbitan sukuk di pasar global senilai US$ 50 miliar pada 2010, Malaysia menerbitkan US$ 33 miliar di antaranya. Bandingkan dengan Indonesia yang baru mulai aktif bepartisipasi dalam pasar sukuk global dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada 2010 Indonesia baru menerbitkan sukuk senilai US$ 3 miliar, sama dengan penerbitan sukuk Arab Saudi. Pada tahun yang sama, Qatar menerbitkan sukuk senilai US$ 2 miliar, sedangkan Pakistan dan UAE masing-masing sekitar US$ 900 juta.
Selain menyampaikan apresiasinya, Wapres Boediono menitipkan pesan penting kepada para pelaku industri keuangan berbasis syariah. Ada dua karakteristik penting industri keuangan berbasis syariah yang jangan sampai terlepas atau terlupakan. Dua karakter itu adalah: Pertama, produk keuangan berbasis syariah sudah mempunyai rambu-rambu khusus dalam mengurangi risiko terlepasnya keterkaitan atau decoupling antara kegiatan keuangan dan kegiatan sektor riil. Kedua, produk keuangan berbasis syariah juga berhasil menurunkan decoupling antara risiko dengan imbalan. "Dua decoupling inilah yang menjadi sumber malapetaka krisis menimpa pasar global pada 2008-2009. Saya sangat mengharapkan keunggulan syariah ini dapat dipertahankan," pesan Wapres saat mengawali sambutannya.(Selengkapnya lihat sambutan Wapres di rubrik Ruang Media )
Tampaknya, dalam konferensi ini kedua negara memang bisa saling belajar. Dalam ungkapan Darmin Nasution, Indonesia ingin belajar dari pengalaman Malaysia yang berhasil mengembangkan industri keuangan berbasis syariah melalui pendekatan top down yang didukung penuh otoritas moneter dan pemerintah. Sementara Malaysia tentu juga bisa belajar banyak dari Indonesia yang lebih cenderung memakai strategi bottom up, mengandalkan dukungan masyarakat dan berbagai strata.
Hubungan kedua tetangga terdekat yang harmonis di bidang industri keuangan juga mewarnai sambutan Gubernur Bank Negara Malaysia Zeti Akhtar Aziz. Ia pun menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya berlangsung pada sistem keuangannya saja, tetapi juga meliputi pendidikan sistem keuangan syariah. Sebab, sumber daya manusia adalah faktor yang sangat penting bagi pengembangan sistem keuangan syariah. Maka, “Kami telah menjalin kerjasama di bidang pendidikan keuangan syariah antara International Center for Education Malaysia dan tujuh Perguruan Tinggi di Indonesia,” ujar Zeti. (Bey Machmuddin)
sumber :
www.wapresri.go.id
Jumat, 22 Juli 2011
Punggawa Manajemen Tutup Usia
C.K Prahalad Meninggal di Usia 68 tahun
Guru manajemen berkebangsaan India, C.K. Prahalad seperti dieritakan www.online.wsj.com tutup usia setelah menderita sakit di San Diego, AS.Pria berusia 68 tahun itu adalah profesor ada Ross School of Business Universitas Michigan. Pendekatan pemikiran manajemen "bottom-of-the pyramid" yang dikemukakan Prahalad menjadi salah satu kontribusinya di panggung akademis, yang kemudian dibukukan pada tahun 2004.
Prahalad dilahirkan di Chennai, negara bagian Tamil Nadu pada 1941. Dia adalah lulusan pascasarjana Indian Institute of Management Ahmedabad (1966) dan meraih gelar doktor dari Harvard Business School (1972) dengan riset di bidang Multinational Management. Teori-teori yang dikembangkan Prahalad diyakini memberikan inspirasi bagi pengusaha retail di India dan seluruh dunia. Selamat jalan Pak Prahalad, semoga ilmu-ilmunya bermanfaat bagi dunia.
Guru manajemen berkebangsaan India, C.K. Prahalad seperti dieritakan www.online.wsj.com tutup usia setelah menderita sakit di San Diego, AS.Pria berusia 68 tahun itu adalah profesor ada Ross School of Business Universitas Michigan. Pendekatan pemikiran manajemen "bottom-of-the pyramid" yang dikemukakan Prahalad menjadi salah satu kontribusinya di panggung akademis, yang kemudian dibukukan pada tahun 2004.
Prahalad dilahirkan di Chennai, negara bagian Tamil Nadu pada 1941. Dia adalah lulusan pascasarjana Indian Institute of Management Ahmedabad (1966) dan meraih gelar doktor dari Harvard Business School (1972) dengan riset di bidang Multinational Management. Teori-teori yang dikembangkan Prahalad diyakini memberikan inspirasi bagi pengusaha retail di India dan seluruh dunia. Selamat jalan Pak Prahalad, semoga ilmu-ilmunya bermanfaat bagi dunia.
Emas Kembali Naik ke $ 1.601 per Ounce
INILAH.COM, San Francisco - Emas berjangka ditutup menguat pada Sabtu (23/7) dinihari tadi, setelah datang kekhawatiran baru tentang batas atas utang AS.
Emas untuk pengiriman Agustus naik US$14,50, atau 0,9%, ke level US$ 1.601,50 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange.
Kontrak tersebut sempat mencapai level intraday tertinggi di US$ 1.607.70 per ounce. Emas pada Senin kemarin mencatatkan rekor nominal sebesar US$ 1.602,50 per ounce.
Menyesuaikan dengan inflasi, emas harus berada di US$ 2.400 per ounce, untuk menggantikan level rekor pada Januari 1980 sebesar US$ 850 per ounce.
Tiga hari beruturut-turut sebelumnya terjadi koreksi untuk logam, akibat tekanan di tengah pelemahan dolar dan rencana untuk resolusi utang zona Euro yang mengurangi daya tarik logam sebagai aset investasi aman.
“Sekarang, semua mata tertuju pada negosiasi batas atas utang AS," kata James Steel, analis emas di HSBC New York.
Di Washington, MPR AS menolak RUU yang diajukan DPR, yang akan menaikkan plafon utang AS, digabungkan dengan pemangkasan belanja tajam dan amandemen anggaran berimbang.
Pemerintahan Obama telah mengatakan batas atas utang sebesar US$ 14,3 triliun perlu dinaikkan pada 2 Agustus atau pemerintah akan gagal menjalankan kewajibannya.
Menteri Keuangan Timothy Geithner, Ketua Federal Reserve Ben Bernanke, dan Ketua The Fed New York William Dudley bertemu untuk membahas implikasi bagi perekonomian AS, jika Kongres gagal menaikkan plafon utang.
Seorang juru bicara Kementrian Keuangan mengatakan bahwa pemerintah tetap yakin parlemen akan menetapkan undang-undang untuk meningkatkan plafon utang.
Daya tarik emas telah redup, setelah pemimpin Eropa sepakat memberi bailout kedua untuk Yunani dan memasukkan dalam penempatan yang dirancang untuk mencegah penyebaran masalah utang.
Tapi emas masih diuntungkan dari timbulnya keraguan atas keberhasilan rencana.
“Krisis utang Eropa belum berakhir. Sebagai contoh, negara-negara kecil zona euro yang saat ini dipandang sebagai kritis harus mendapatkan pendanaan dalam bulan dan tahun mendatang di pasar modal, yang dapat mengakibatkan ketidakpastian lebih lanjut, "kata analis di Commerzbank dalam catatan kepada klien.
“Para pemimpin Eropa mungkin telah mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah utang jangka pendek, tapi eksekusi rencana itu akan dimonitor," kata Steel dari HSBC.
Kebanyakan logam berjangka diperdagangkan menguat. Perak September rally US$ 1,18, atau 3%, ke level US$ 40,12 per ounce. Tembaga untuk pengiriman September naik 3 sen, atau 0,6% menjadi US$ 4,41 per pon. Platinum Oktober naik US$ 10,60, atau 0,6%, menjadi US$ 1.798,40 per ounce, sedangkan paladium September turun US$ 2,60, atau 0,3%, menjadi US$ 806,40 per ounce. [ast]
Sumber :
inilah.com
Emas untuk pengiriman Agustus naik US$14,50, atau 0,9%, ke level US$ 1.601,50 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange.
Kontrak tersebut sempat mencapai level intraday tertinggi di US$ 1.607.70 per ounce. Emas pada Senin kemarin mencatatkan rekor nominal sebesar US$ 1.602,50 per ounce.
Menyesuaikan dengan inflasi, emas harus berada di US$ 2.400 per ounce, untuk menggantikan level rekor pada Januari 1980 sebesar US$ 850 per ounce.
Tiga hari beruturut-turut sebelumnya terjadi koreksi untuk logam, akibat tekanan di tengah pelemahan dolar dan rencana untuk resolusi utang zona Euro yang mengurangi daya tarik logam sebagai aset investasi aman.
“Sekarang, semua mata tertuju pada negosiasi batas atas utang AS," kata James Steel, analis emas di HSBC New York.
Di Washington, MPR AS menolak RUU yang diajukan DPR, yang akan menaikkan plafon utang AS, digabungkan dengan pemangkasan belanja tajam dan amandemen anggaran berimbang.
Pemerintahan Obama telah mengatakan batas atas utang sebesar US$ 14,3 triliun perlu dinaikkan pada 2 Agustus atau pemerintah akan gagal menjalankan kewajibannya.
Menteri Keuangan Timothy Geithner, Ketua Federal Reserve Ben Bernanke, dan Ketua The Fed New York William Dudley bertemu untuk membahas implikasi bagi perekonomian AS, jika Kongres gagal menaikkan plafon utang.
Seorang juru bicara Kementrian Keuangan mengatakan bahwa pemerintah tetap yakin parlemen akan menetapkan undang-undang untuk meningkatkan plafon utang.
Daya tarik emas telah redup, setelah pemimpin Eropa sepakat memberi bailout kedua untuk Yunani dan memasukkan dalam penempatan yang dirancang untuk mencegah penyebaran masalah utang.
Tapi emas masih diuntungkan dari timbulnya keraguan atas keberhasilan rencana.
“Krisis utang Eropa belum berakhir. Sebagai contoh, negara-negara kecil zona euro yang saat ini dipandang sebagai kritis harus mendapatkan pendanaan dalam bulan dan tahun mendatang di pasar modal, yang dapat mengakibatkan ketidakpastian lebih lanjut, "kata analis di Commerzbank dalam catatan kepada klien.
“Para pemimpin Eropa mungkin telah mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah utang jangka pendek, tapi eksekusi rencana itu akan dimonitor," kata Steel dari HSBC.
Kebanyakan logam berjangka diperdagangkan menguat. Perak September rally US$ 1,18, atau 3%, ke level US$ 40,12 per ounce. Tembaga untuk pengiriman September naik 3 sen, atau 0,6% menjadi US$ 4,41 per pon. Platinum Oktober naik US$ 10,60, atau 0,6%, menjadi US$ 1.798,40 per ounce, sedangkan paladium September turun US$ 2,60, atau 0,3%, menjadi US$ 806,40 per ounce. [ast]
Sumber :
inilah.com
Pencabutan Fiskal Pacu Arus WNI ke LN
Sayangnya sebagian besar destinasi belum bisa dijangkau karena kendala infrastruktur. --Moetaryato
JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak pemerintah mencabut kebijakan fiskal bagi warga negara Indonesia yang ingin berkunjung ke luar negeri, arus wisatawan ke luar negeri meningkat pesat. Hal itu juga dipicu masih lemahnya pembenahan infrastruktur pariwisata sehingga wisatawan lokal tidak tertarik mengunjungi obyek lokal.
Dari segi destinasi, Indonesia lebih banyak pilihan. Sayangnya sebagian besar destinasi belum bisa dijangkau karena kendala infrastruktur.
Hal tersebut disampaikan Moetaryanto, anggota Pacific Asia Travel Association Indonesia Chapter, di Jakarta, Rabu (20/7/2011) sore. "Bebas fiskal membuat orang ke luar negeri lebih murah. Di sana tawarannya lebih menarik, biaya transportasinya juga lebih murah. Tak heran jika banyak yang menghabiskan liburan ke luar negeri," katanya.
Dia mengatakan, jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia masih sangat kecil. Tahun 2010 hanya 7 juta orang. Padahal, di Malaysia angkanya sudah menembus 20 juta orang. "Dari segi destinasi, Indonesia lebih banyak pilihan. Sayangnya sebagian besar destinasi belum bisa dijangkau karena kendala infrastruktur," ujarnya.
sumber : www.kompas.com
Label:
Arus WN. Indonesia,
Pencabutan Fiskal
Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Tidak "Bubble"
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi, Faisal Basri, meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam kondisi bubble. Namun sayang, kondisi ini lebih banyak dinikmati investor asing.
"Perekonomian Indonesia saat ini tumbuh secara alami dan tidak ada indikasi bubble. Kalau bubble itu perkembangan ekonominya jauh melampaui penguatan fondasi. Kalau di Indonesia tidak seperti itu," ujar dia di sela-sela diskusi "Market Outlook Kuartal Tiga 2011" di Jakarta, Senin (18/7/2011) malam.
Ia mengatakan, investor yang ingin menempatkan dananya pada suatu negara juga akan berhati-hati. Mereka akan melihat sejauh mana pertumbuhan negara yang dituju. "Investor juga tidak bodoh untuk menempatkan dananya. Kondisi yang terjadi saat ini, Indonesia mempunyai pertumbuhan yang positif," katanya.
Ditambahkan, masuknya dana asing saat ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang baik. Salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan pasar modal. "Jadi, kalau saya punya uang, lebih baik saya menempatkan dana semuanya pada saham. Pada negara yang positif pertumbuhannya, ditinggal tidur saja saham akan naik," kata dia.
Namun, kata dia, sangat disayangkan bahwa positifnya pasar modal Indonesia saat ini, sebanyak 70 persen dinikmati pelaku asing. "Masalahnya adalah penikmat-penikmat membaiknya saham di Indonesia, 70 persen adalah orang asing karena investor domestiknya ditakut-takuti isu bubble," ujar dia.
Ia menambahkan, besaran pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang di atas 3.000 dollar AS juga merefleksikan kemajuan pembangunan suatu negara. Dalam empat tahun ke depan, lanjut dia, ekonomi Indonesia masih akan terus tumbuh. Diprediksi pula bahwa total dana asing yang masuk (capital inflow) hingga akhir tahun 2011 dapat mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat menambah devisa negara.
"Empat tahun ke depan ekonomi Indonesia akan terus ekspansi. Total capital inflow bisa mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat membuat devisa kita bertambah," kata pengamat dari Universitas Indonesia itu.
Ia menambahkan, kuatnya cadangan devisa dalam negeri akan menopang stabilitas kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar. "Derasnya capital inflow akan membuat cadangan devisa kita kuat. Dengan demikian, hal itu akan membuat penguatan rupiah terhadap dollar AS," ucapnya.(ANT)
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/07/19/06111940/Faisal.Basri.Ekonomi.Indonesia.Tidak.Bubble
"Perekonomian Indonesia saat ini tumbuh secara alami dan tidak ada indikasi bubble. Kalau bubble itu perkembangan ekonominya jauh melampaui penguatan fondasi. Kalau di Indonesia tidak seperti itu," ujar dia di sela-sela diskusi "Market Outlook Kuartal Tiga 2011" di Jakarta, Senin (18/7/2011) malam.
Ia mengatakan, investor yang ingin menempatkan dananya pada suatu negara juga akan berhati-hati. Mereka akan melihat sejauh mana pertumbuhan negara yang dituju. "Investor juga tidak bodoh untuk menempatkan dananya. Kondisi yang terjadi saat ini, Indonesia mempunyai pertumbuhan yang positif," katanya.
Ditambahkan, masuknya dana asing saat ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang baik. Salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan pasar modal. "Jadi, kalau saya punya uang, lebih baik saya menempatkan dana semuanya pada saham. Pada negara yang positif pertumbuhannya, ditinggal tidur saja saham akan naik," kata dia.
Namun, kata dia, sangat disayangkan bahwa positifnya pasar modal Indonesia saat ini, sebanyak 70 persen dinikmati pelaku asing. "Masalahnya adalah penikmat-penikmat membaiknya saham di Indonesia, 70 persen adalah orang asing karena investor domestiknya ditakut-takuti isu bubble," ujar dia.
Ia menambahkan, besaran pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang di atas 3.000 dollar AS juga merefleksikan kemajuan pembangunan suatu negara. Dalam empat tahun ke depan, lanjut dia, ekonomi Indonesia masih akan terus tumbuh. Diprediksi pula bahwa total dana asing yang masuk (capital inflow) hingga akhir tahun 2011 dapat mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat menambah devisa negara.
"Empat tahun ke depan ekonomi Indonesia akan terus ekspansi. Total capital inflow bisa mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat membuat devisa kita bertambah," kata pengamat dari Universitas Indonesia itu.
Ia menambahkan, kuatnya cadangan devisa dalam negeri akan menopang stabilitas kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar. "Derasnya capital inflow akan membuat cadangan devisa kita kuat. Dengan demikian, hal itu akan membuat penguatan rupiah terhadap dollar AS," ucapnya.(ANT)
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/07/19/06111940/Faisal.Basri.Ekonomi.Indonesia.Tidak.Bubble
Langganan:
Postingan (Atom)