KOMPAS.com - Beberapa tahun terakhir ini perkembangan dunia pasar modal Indonesia sangat menggembirakan. Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing lagi dengan kata-kata pasar modal, saham, obligasi ataupun reksadana. Paling tidak sudah semakin banyak orang yang dapat membedakan antara Reksa Dana dengan Dana Reksa.
Belajar dari krisis tahun 2008 membuat banyak orang mempertanyakan system ekonomi kapitalis yang selama ini dianggap paling hebat ternyata bisa ambruk juga. Efek krisis ekonomi yang dimulai dari Negara AS sebagai pusat ekonomi kapitalis menjalar ke semua negara termasuk Indonesia. Akibat dari krisis tersebut beberapa negara mulai mencari system ekonomi yang ideal yang dapat menggantikan system ekonomi kapitalis, dan mereka menemukan system ekonomi Islam atau syariah adalah system ekonomi yang ideal.
Reksa Dana Syariah
Bermula dari sistem perbankan syariah, lalu kemudian pasar modal syariah yang instrumen utamanya terdiri dari saham syariah, obligasi syariah (sukuk). Lalu apa bedanya dengan yang konvensional? Apakah ini sama-sama menguntungkan? Apakah hanya terbatas dengan masalah halal haram saja?
Dalam tulisan kali kali ini saya hanya membahas tentang Reksa Dana Syariah terlebih dahulu, supaya kita bisa mengenal lebih dekat dengan instrumen investasi Reksa Dana Syariah.
Pada prinsipnya reksadana syariah sama dengan reksadana konvensional hanya saja dalam pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah dipasar modal. Sesungguhnya berinvestasi merupakan bagian dari Islamic wealth management yang diklasifikasikan pada Wealth Accumulation (akumulasi kekayaan) tentunya dengan berlandaskan kepada Alquran dan Hadist dengan nilai-nilai kejujuran, keadilan dan bermanfaat bagi sesama.
Perkembangan Reksa Dana (RD) Syariah
Pada reksadana syariah (RD Syariah), pemilihan instrument investasi harus berdasarkan DES (Daftar Efek Syariah) yang diterbitkan oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia) yang bekerjasama dengan BAPEPAM-LK. DES dikeluarkan setahun 2 kali dalam periode akhir Mei dan November. Per 31 Mei 2011, saat ini baru terdapat 11 SBSN (Surat Berharga Syariah Negara), Sukuk/Obligasi Syariah (OS) = 30 seri, Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Reksa Dana Syariah 49 unit (baru 7,75 persen dari seluruh reksa dana yang ada), yang terdiri dari:
• Reksa dana Saham Syariah 10 unit;
• Reksa dana Campuran Syariah 15 unit;
• Reksa dana Pendapatan tetap Syariah 8 unit;
• Reksa dana Indeks Syariah 1 unit;
• Reksa dana Terproteksi Syariah 3 unit.
Dengan total NAB RD Syariah Rp 5,775 Triliun (3,68 persen dari seluruh NAB Reksadana) dengan komposisi:
• RD syariah campuran Rp 1,076 T;
• RD Syariah Indeks Rp 205,49 M;
• RD Syariah Pendapatan Tetap Rp 465,698 M;
• RD Syariah Saham Rp 1,8 T;
• RD Syariah Terproteksi Rp 2,227 T.
Serta saham syariah yang tercatat di bursa (listing) 213, Perusahaan publik syariah 3 Emiten syariah tidak listing, 9 Total daftar efek syariah 225.
Kebijakan Investasi Reksa Dana Syariah
Kebijakan investasi reksa dana syariah yakni hanya berinvestasi pada perusahaan dengan kategori halal, memenuhi rasio keuangan tertentu. Halal yang dimaksud adalah tidak: (menjual daging babi, minuman keras, bisnis hiburan maksiat, judi, pornografi, dsb), tidak merugikan orang banyak, tidak merugikan orang dan bersifat mudarat (rokok), tidak boleh investasi pada portfolio yang yang bersifat riba (Adanya bunga), bukan judi (maysir), perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang, perdagangan dengan penawaran dan permintaan palsu (bay al najsy), jual beli mengandung ketidakpastian (gharar) dan spekulatif, serta transaksi suap (risywah).
Memenuhi rasio keuangan tertentu, maksudnya total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82 persen (delapan puluh dua per seratus) yang berarti modal 55 persen dan utang 45 persen, total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10 persen.
Kebijakan Investasi reksadana syariah hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan yang sesuai dengan Syari’ah Islam, meliputi:
1. Efek Pasar Modal Syariah: Obligasi Syariah (Sukuk); Saham-saham yang masuk dalam DES (Daftar Efek Syariah), serta efek surat hutang lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah.
2. Instrumen Pasar Uang Syariah: - Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) - Sertifikat Investasi Mudharabah Antar-Bank (SIMA) - Certificate of Deposit Mudharabah Mutlaqah (CD Mudharabah Mutlaqah) - Certificate of Deposit Mudharabah Muqayyadah (CD Mudharabah Muqayyadah)
Alasan Investasi Reksa Dana Syariah
Berikut macam-macam alasan orang untuk berinvestasi di Reksa Dana syariah: ingin berinvestasi di pasar modal tapi waktu terbatas, ingin berinvestasi tapi pengetahuannya masih belum memadai, sementara kebutuhan investasi tidak boleh ditunda-tunda, kurang akses atas informasi yang tersedia dipasar modal, ingin mempunyai return yang optimal atau bahkan mengalahkan return pasar namun dana yang terbatas, ingin diversifikasi investasi, ingin memenuhi kebutuhan jangka pendek, menengah atau panjang dan kesemuanya itu untuk mencapai kebebasan financial secara syariah, ingin berinvestasi tapi sesuai dengan tuntunan agama, alasan lainnya karena syariah memberikan tingkat stabilitas yang tinggi, dll.
Keuntungan Investasi Reksa Dana Syariah
Berikut beberapa keuntungan jika berinvestasi pada reksa dana syariah antara lain: - Kemudahan berinvestasi Banyak perusahaan manajer investasi/Asset Management dengan minimum pembelian Rp 100.000 - Rp 250.000 anda sudah bisa berinvestasi di Reksa Dana. Saat ini produk reksa dana syariah sudah tersedia sebesar 49 reksadana.
-Dikelola oleh manajemen professional dan ahli di bidangnya
Tidak sembarang orang dan perusahaan boleh mengelola reksa dana. Untuk perorangan harus mempunyai ijin sertifikasi Wakil Manajer investasi. Untuk perusahaan harus mempunyai ijin Manajer Investasi, memenuhi syarat permodalan untuk mendirikan perusahaan manajer investasi, menjalani fit & proper test oleh BAPEPAM&LK untuk manajemen perusahaan dan secara berkala juga diaudit oleh BAPEPAM&LK; mempunyai SDM yang handal untuk mendukung setiap unit kerja di perusahaan manajer Investasi, dan tentunya SDM tersebut harus mengerti tentang syariah dan pengelolaan investasi secara syariah.
-Diversifikasi Investasi
Untuk menghasilkan return yang optimal maka kita harus mendiversifikasikan portfolio investasi kita dengan cara membeli beberapa saham di sektor yang berbeda, membeli obligasi dan menaruhnya juga dipasar uang dengan tingkat return yang optimal. Pola diversifikasi semacam itu mensyaratkan nilai portfolio investasi yang tinggi.
Lalu bagaimana dengan kita yang memiliki dana terbatas? Reksa Dana adalah solusinya. Karena hakikatnya Reksa Dana adalah dana yang dihimpun dari orang-orang yang menginginkan investasi maka menghasilkan dana kelolaan yang besar. Dan hasil dari investasi yang optimal tersebut lalu dibagikan kepada investor sesuai dengan porsi investasinya tentu saja setelah dipotong oleh biaya-biaya yang telah disyaratkan oleh Manajer Investasi. Biaya-biaya ini pun tak besar karena untuk biaya pun tanggung renteng sesuai dengan porsi investasinya dan meniadakan biaya yang tak perlu lainnya jika investasi tersebut dilakukan seorang diri oleh investor. Ini salah satu sebabnya kinerja Reksa Dana lebih optimal dibanding jika investor harus berinvestasi sendiri.
- Likuiditas yang tinggi
Apabila investor ingin menarik investasinya dikarenakan membutuhkan dana untuk keperluan yang lain ataupun ingin melakukan realisasi keuntungan maka bisa dicairkan atau ditarik kapan saja.
- Biaya investasi cenderung rendah
Jika investor bertransaksi saham sendiri perhatikan biaya yang dibebankan oleh sekuritas seperti biaya transaksi minimal kisarannya adalah Rp 10.000-Rp 15.000. Namun ada juga yang membebankan keseluruhan biaya dari transaksi ada per saham. Selain itu jika kita menginginkan untuk melakukan transaksi obligasi syariah (Sukuk) maka nilai yang investasi yang ditawarkan minimal Rp 1 miliar kalaupun ada Sukuk Ritel (SUKRI) maka pembelian 1 unit minimal Rp 5 juta. Pertanyaan selanjutnya bagaimana jika anda menginginkan investasi rutin dibawah Rp 5 juta maka anda tidak bisa membeli Sukuk maupun Sukri.
Untuk Deposito jika dana anda dibawah Rp 500 juta maka anda hanya diberikan rate counter yang saat ini ada dikisaran 5,5 persen-6,5 persen belum dipotong PPh final 20 persen. Lalu bagaimana dengan Anda yang mempunyai dana sekitar Rp 100.000-Rp 1.999.900 maka Anda hanya bisa masuk tabungan dan tabungan berjangka dengan bagi hasil 2 persen-3 persen (untuk tabungan) dan 4 persen untuk tabungan berjangka sudah terkunci (lock) sekian tahun (tergantung kebijakan bank) lagi-lagi terpotong PPh final 20 persen.
Bandingkan dengan inflasi yang saat ini ada dikisaran 4,61 persen. Untuk Deposito diatas Rp 500 juta bank bisa memberikan bagi hasil 9 persen gross. Bandingkan jika yang mengelola adalah manajer investasi maka biaya investasinya akan rendah dengan hasil yang optimal.
- Transparansi Informasi
Semua informasi mengenai kinerja investasi harian bisa dipantau di media masa. Setiap bulan nasabah akan diberikan laporan kinerja investasi seperti rekening koran dan kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet).
- Lebih Aman dan Stabil
Seperti telah dijelaskan diatas, rasio dengan batas 82 persne memberikan jaminan bahwa perusahaan memiliki struktur modal yang sehat dengan perbandingan utang tidak boleh lebih besar dari modal. Sehingga imbasnya obligasi/sukuk syariah mempunyai resiko gagal bayar atau default jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan obligasi konvensional. Dengan demikian melalui mekanisme rasio kuantitatif, Reksadana Syariah terselamatkan dari penurunan NAB yang tajam. Untuk Obligasi Syariah dengan mekanisme underlying (ada nilai pokok yang dijadikan dasar penerbitan obligasi), investor dengan sendirinya merasa yakin bahwa obligasi syariah relatif aman sehingga banyak diinginkan oleh investor. Umumnya yang memegang obligasi syariah adalah institusi syariah dan mereka pada umumnya memegang sampai tanggal jatuh tempo (hold to maturity) sehingga gejolak harganya (volatilitas) nya relatif stabil.
- Terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Fungsi dari DPS adalah mengawasi dan memberikan pengarahan agar pengelolaan Reksa Dana sesuai dengan prinsip syariah yaitu jujur, berkeadilan dan bermanfaat bagi sesama.
- Membantu perekonomian bangsa
Pada penerbitan SUKRI, negara bisa memanfaatkannya sehingga biaya pemerintah jadi lebih kecil, sedang pada perusahaan biasanya hasil penjualan sukuk dipakai untuk modal kerja perusahaan.
Resiko Investasi Reksa Dana Syariah
Seperti pada reksadana konvensional, investasi pada reksadana syariah pun mempunyai resiko, antara lain:
- Risiko penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB)
- Risiko Likuiditas jika terjadi pencairan dalam jumlah yang besar secara bersamaan
- Risiko perubahan ekonomi dan politik dan peraturan perpajakan
- Risiko terjadinya wanprestasi
- Risiko Pembubaran
Kesimpulan
Bagi umat muslim landasan akan pentingnya berinvestasi antara lain berdasarkan hadist: ”Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. [HRMuslim&Ahmad]”
Reksa Dana Syariah Terbatas hanya masyarakat muslim saja?
Tidak, karena pada dasarnya syariah itu bukan ”Keyakinan” melainkan ”System Ekonomi” yaitu dengan mengedepankan prinsip kejujuran, keadilan dan bermanfaat bagi sesama itu menjadi nilai-nilai dasar kemanusiaan apapun agamanya dan berasal dari suku manapun.
Prinsip tanpa RIBA juga tidak hanya ada didalam Islam tapi juga di Nasrani, Yahudi dan agama lainnya. Silahkan cek pada kitab agama masing-masing. Tidaklah heran jika saat ini perkembangan syariah khususnya reksadana syariah sudah sampai ke Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, China, Hongkong dan banyak negara lainnya yang bukan mayoritas beragama Islam tetapi memakai konsep dasar syariah dalam pengelolaan keuangan dan Investasi.
Lebih dari itu di London sudah terlebih dahulu ada FTSE Global Islamic Index dan di Amerika Serikat sudah ada Dow Jones Islamic Indeks jauh sebelum Indonesia yang notabene adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Jadi sekarang selamat berinvestasi reksadana syariah, jangan lupa tentukan profil resiko anda, tentukan tujuan keuangan dan jangka waktu investasinya setelah itu mulailah lakukan investasi beerdasarkan klasifikasi diri anda sesuai butir butir diatas dan selamat menikmati hasilnya. Jadikan syariah sebagai way of life apapun suku anda, apapun agama anda dan suku anda. Kecil bersenang-senang, muda bekerja & investasi, tua sejahtera, meninggal masuk surga. (Rosinu, Syaria Expert, Partner TGRM Perencana Keuangan)
sumber :
www.kompas.com
Ferdi N Sijabat
Selasa, 09 Agustus 2011
Senin, 08 Agustus 2011
Fokus pada Resesi Ganda, Emas Semakin Perkasa
INILAH.COM, Jakarta – Setelah S&P men-downgrade peringkat kredit AS, pasar fokus pada resesi ganda yakni penyebaran krisis Eropa dan resesi AS. Investor pun, gencar beralih ke aset safe haven. Emas pun semakin perkasa.
Analis Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, situasi buruk diperkirakan pasar sudah terjadi. Analis sebelumnya sudah menanti-nanti tindakan dari lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Rating Service (S&P) yang berencana men-down grade peringkat utang AS.
Penantian itu, lanjutnya, menjadi kenyataan, setelah Kongres AS menyetujui kenaikan batas atas utang (debt ceiling) AS sebesar US$2,1 triliun dari level US$14,3 triliun dan pemangkasan anggaran sebesar US$2,4 triliun. “Down grade, justru dilakukan S&P setelah AS merilis data non-farm payrolls sedikit di atas ekspektasi 117 ribu dari perkiraan 85 ribu,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/8).
Peringkat utang AS diturunkan dari level AAA ke AA+. Karena itu, lanjut Daru, kekhawatiran pasar semakin merajalela. Sebab, down grade AS didukung oleh buruknya kondisi fundamental ekonomi sehingga makin mendera negara adidaya itu. Di pasar pun terjadi aksi panic selling untuk dialihkan ke aset-aset yang jauh lebih aman (safe haven) seperti emas dan Swiss Franc. “Fokus pasar saat ini adalah AS memasuki resesi kembali,” ungkapnya.
Pasalnya, menurut Daru, membaiknya data tenaga kerja di luar sektor pertanian saja tidak berdaya meredam kekhawatiran pasar yang bergejolak. Apalagi, data Gross Domestic Product (GDP) memburuk pada kuartal II-2011, sektor manufaktur, belanja konsumen dan penurunan peringkat. “Pasar melihat, negara Adidaya yang besar saja peringkatnya diturunkan,” ujar Daru.
Pasar saat ini, cemas atas kelanjutan kondisi utang AS yang rasionya sudah mencapai 111% terhadap PDB senilai US$14,66 triliun. Ketidakpastian ekonomi global pun kembali menguat. Sekarang, pasar menantikan Selasa (9/8) yaitu soal keputusan suku bunga dari The Fed. “Meski suku bunga AS dipastikan ditahan di level 0-0,25%, tapi, pasar mengkhawatirkan statemen yang akan dikeluarkan Gubernur The Fed Ben Bernanke,” tuturnya.
Pasar ingin melihat, apakah Bernanke mengindikasikan Quantitative Easing (QE) ketiga atau langkah pelonggaran moneter lainnya. “JIka tidak ada sinyal QE, akan memberi sinyal buruk untuk bursa saham, sehingga akan memicu peralihan investasi ke emas dan emas akan menguat lebih jauh,” paparnya.
Pada saat yang sama, pasar juga khawatir dan fokus terhadap resesi ganda yakni resesi Amerika dan penyebaran krisis utang di zona Eropa. Calon negara yang akan terpapar krisis utang adalah Spanyol, Italia, Portugal dan Irlandia. “Dalam waktu dekat, European Cenral Bank (ECB) sudah menyepakati untuk mengintervensi Italia, dengan syarat pemerintah Italia turut merekondisi tatanan ekonomi negaranya,” paparnya.
Di atas semua itu, setelah emas memasuki level US$1.700 dengan lancar, level-level penguatan berikutnya juga akan mudah ditembus. Level US$1.710 dengan mudah ditembus tidak sampai 1 jam dari level 1.698 per troy ounce dengan level tertingginya di angka US$1.714,79 pada Senin (8/8).
Berdasarkan Fibonacci Projection, penguatan emas berikutnya untuk jangka pendek ke level US$1.720 dan US1.740-1.750 untuk pekan ini. Tapi, jika permintaan naik tajam, level ini bisa dicapai tanpa harus menunggu akhir pekan ini. “Mungkin, pada Rabu (10/8), level tersebut sudah tercapai,” ungkapnya.
Apalagi, indikator Moving Average, Stochastic, dan Moving Average Convergence-Divergence (MACD), semuanya menunjukkan penguatan emas. “Tapi, dilihat dari faktor risiko, harga emas bisa saja terkoreksi seperti yang terjadi Kamis (4/8). Setelah mencetak rekor tertinggi di level US$1.681, ‘tidak ada angin tidak ada hujan’, harga emas tiba-tiba merosot tajam 4.000 poin ke level US$1.639,” ungkap Daru.
Kondisi ini, lanjutnya, cukup mengguncang pasar. Ternyata, setelah diteliti, kondisi itu dipicu oleh profit taking investor yang sedang melakukan diversifikasi investasi untuk menutupi kerugian pada investasi lain. “Karena itu, pemegang emas harus mewaspadai aksi jual secara massif,” ucapnya.
Sementara itu, dengan asumsi harga di level US$1.715, level support emas berada di US$1.700. Jika tembus, support berikutnya US$1.689,15 (dibulatkan 1.690) yang merupakan level Fibonacci Retracement 38,2% apabila terjadi koreksi dari angka tertingginya US$1.714-1.715. “Koreksi berikutnya di level US$1.681,25 (Fibonacci Retracement 50%). Berikutnya, di level US$1.670 yang merupakan harga tertinggi Jumat (5/8),” urai Daru.
Daru menyarankan, dalam situasi harga emas yang terlalu tinggi, bagi yang sudah punya posisi lebih baik hold saja. Tapi, bagi yang baru cari posisi, bisa beli di level US$1.700 atau di level US$1.689. “Jika berspekulasi, bisa menunggu aksi profit taking seperti yang terjadi pada 4 Agustus 2011,” imbuh Daru. [mdr]
sumber :
www.inilah.com
Analis Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, situasi buruk diperkirakan pasar sudah terjadi. Analis sebelumnya sudah menanti-nanti tindakan dari lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Rating Service (S&P) yang berencana men-down grade peringkat utang AS.
Penantian itu, lanjutnya, menjadi kenyataan, setelah Kongres AS menyetujui kenaikan batas atas utang (debt ceiling) AS sebesar US$2,1 triliun dari level US$14,3 triliun dan pemangkasan anggaran sebesar US$2,4 triliun. “Down grade, justru dilakukan S&P setelah AS merilis data non-farm payrolls sedikit di atas ekspektasi 117 ribu dari perkiraan 85 ribu,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/8).
Peringkat utang AS diturunkan dari level AAA ke AA+. Karena itu, lanjut Daru, kekhawatiran pasar semakin merajalela. Sebab, down grade AS didukung oleh buruknya kondisi fundamental ekonomi sehingga makin mendera negara adidaya itu. Di pasar pun terjadi aksi panic selling untuk dialihkan ke aset-aset yang jauh lebih aman (safe haven) seperti emas dan Swiss Franc. “Fokus pasar saat ini adalah AS memasuki resesi kembali,” ungkapnya.
Pasalnya, menurut Daru, membaiknya data tenaga kerja di luar sektor pertanian saja tidak berdaya meredam kekhawatiran pasar yang bergejolak. Apalagi, data Gross Domestic Product (GDP) memburuk pada kuartal II-2011, sektor manufaktur, belanja konsumen dan penurunan peringkat. “Pasar melihat, negara Adidaya yang besar saja peringkatnya diturunkan,” ujar Daru.
Pasar saat ini, cemas atas kelanjutan kondisi utang AS yang rasionya sudah mencapai 111% terhadap PDB senilai US$14,66 triliun. Ketidakpastian ekonomi global pun kembali menguat. Sekarang, pasar menantikan Selasa (9/8) yaitu soal keputusan suku bunga dari The Fed. “Meski suku bunga AS dipastikan ditahan di level 0-0,25%, tapi, pasar mengkhawatirkan statemen yang akan dikeluarkan Gubernur The Fed Ben Bernanke,” tuturnya.
Pasar ingin melihat, apakah Bernanke mengindikasikan Quantitative Easing (QE) ketiga atau langkah pelonggaran moneter lainnya. “JIka tidak ada sinyal QE, akan memberi sinyal buruk untuk bursa saham, sehingga akan memicu peralihan investasi ke emas dan emas akan menguat lebih jauh,” paparnya.
Pada saat yang sama, pasar juga khawatir dan fokus terhadap resesi ganda yakni resesi Amerika dan penyebaran krisis utang di zona Eropa. Calon negara yang akan terpapar krisis utang adalah Spanyol, Italia, Portugal dan Irlandia. “Dalam waktu dekat, European Cenral Bank (ECB) sudah menyepakati untuk mengintervensi Italia, dengan syarat pemerintah Italia turut merekondisi tatanan ekonomi negaranya,” paparnya.
Di atas semua itu, setelah emas memasuki level US$1.700 dengan lancar, level-level penguatan berikutnya juga akan mudah ditembus. Level US$1.710 dengan mudah ditembus tidak sampai 1 jam dari level 1.698 per troy ounce dengan level tertingginya di angka US$1.714,79 pada Senin (8/8).
Berdasarkan Fibonacci Projection, penguatan emas berikutnya untuk jangka pendek ke level US$1.720 dan US1.740-1.750 untuk pekan ini. Tapi, jika permintaan naik tajam, level ini bisa dicapai tanpa harus menunggu akhir pekan ini. “Mungkin, pada Rabu (10/8), level tersebut sudah tercapai,” ungkapnya.
Apalagi, indikator Moving Average, Stochastic, dan Moving Average Convergence-Divergence (MACD), semuanya menunjukkan penguatan emas. “Tapi, dilihat dari faktor risiko, harga emas bisa saja terkoreksi seperti yang terjadi Kamis (4/8). Setelah mencetak rekor tertinggi di level US$1.681, ‘tidak ada angin tidak ada hujan’, harga emas tiba-tiba merosot tajam 4.000 poin ke level US$1.639,” ungkap Daru.
Kondisi ini, lanjutnya, cukup mengguncang pasar. Ternyata, setelah diteliti, kondisi itu dipicu oleh profit taking investor yang sedang melakukan diversifikasi investasi untuk menutupi kerugian pada investasi lain. “Karena itu, pemegang emas harus mewaspadai aksi jual secara massif,” ucapnya.
Sementara itu, dengan asumsi harga di level US$1.715, level support emas berada di US$1.700. Jika tembus, support berikutnya US$1.689,15 (dibulatkan 1.690) yang merupakan level Fibonacci Retracement 38,2% apabila terjadi koreksi dari angka tertingginya US$1.714-1.715. “Koreksi berikutnya di level US$1.681,25 (Fibonacci Retracement 50%). Berikutnya, di level US$1.670 yang merupakan harga tertinggi Jumat (5/8),” urai Daru.
Daru menyarankan, dalam situasi harga emas yang terlalu tinggi, bagi yang sudah punya posisi lebih baik hold saja. Tapi, bagi yang baru cari posisi, bisa beli di level US$1.700 atau di level US$1.689. “Jika berspekulasi, bisa menunggu aksi profit taking seperti yang terjadi pada 4 Agustus 2011,” imbuh Daru. [mdr]
sumber :
www.inilah.com
Minggu, 31 Juli 2011
BI: Nilai Remittance TKI per Mei US$ 559,36 Juta
INI.AH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sampai dengan Mei 2011, nilai remitansi (inflow worker remittance) sebesar US$559,36 juta.
Demikian dituturkan Deputi Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Senin (1/8). "Potensi devisa TKI di luar negeriper Juni 2011 berjumlah 44.241," tukasnya.
"Nilai remittance tersebut berasal dari TKI yang berada di kawasan Asia sebesar 57,5% terutama Malaysia dan Timur Tengah dan Afrika sebesar 40,3% , sedang Eropa dan Amerika Serikat 2,1%," imbuhnya.
Menurut Darmin, TKI menjadi salah satu target implementasi edukasi keuangan karena jumlah yang signifikan dan semakin meningkat. "Edukasi kepada mereka harus terus dilakukan agar devisa yang disumbangkan TKI kepada perekonomian Indonesia dapat lebih optimal," ujarnya.
Salah atu upaya yang dilakukan untuk edukasi terhadap TKI, BI dan Kemenakertrans menandatangani Kesepakatan bersama edukasi Keuangan dalam rangka pemberdayaan Tenaka Kerja Indonesia. Kesepakatan bersama ini dimaksudkan untuk mensinergikan program masing-masing pihak dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan TKI dalam melakukan perencanaan keuangan untuk meningkatkan kesejahteraah TKI dan keluarganya. [cms]
sumber :
www.inilah.com
Demikian dituturkan Deputi Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Senin (1/8). "Potensi devisa TKI di luar negeriper Juni 2011 berjumlah 44.241," tukasnya.
"Nilai remittance tersebut berasal dari TKI yang berada di kawasan Asia sebesar 57,5% terutama Malaysia dan Timur Tengah dan Afrika sebesar 40,3% , sedang Eropa dan Amerika Serikat 2,1%," imbuhnya.
Menurut Darmin, TKI menjadi salah satu target implementasi edukasi keuangan karena jumlah yang signifikan dan semakin meningkat. "Edukasi kepada mereka harus terus dilakukan agar devisa yang disumbangkan TKI kepada perekonomian Indonesia dapat lebih optimal," ujarnya.
Salah atu upaya yang dilakukan untuk edukasi terhadap TKI, BI dan Kemenakertrans menandatangani Kesepakatan bersama edukasi Keuangan dalam rangka pemberdayaan Tenaka Kerja Indonesia. Kesepakatan bersama ini dimaksudkan untuk mensinergikan program masing-masing pihak dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan TKI dalam melakukan perencanaan keuangan untuk meningkatkan kesejahteraah TKI dan keluarganya. [cms]
sumber :
www.inilah.com
Label:
Arus WN. Indonesia,
malaysia,
remittance,
tki
Kamis, 28 Juli 2011
Mengapa Soros Baru Pensiun Sekarang?
"Saya tidak yakin, orang-orang yang memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktu bepergian dan pelesiran dengan kapal pesiar, akan segembira yang mereka pikir. Akan ada banyak polesan. Sementara Anda berkonsentrasi pada kegiatan yang berarti, mereka dapat menimbulkan masalah seperti lainnya. "
INILAH.COM, Jakarta - George Soros kemarin diberitakan menutup dananya untuk investor luar. Pensiun ini tampaknya merupakan titik balik dari pemodal miliarder, yang usianya tidak bisa dikatakan muda lagi.
Dalam surat pemberitahuannya kepada kliennya di seluruh dunia, perusahaan Soros mengatakan hanya akan mengelola dana investasi milik keluarga di dalam negeri. Ini berarti, ia akan mengembalikan seluruh dana investor yang jumlahnya mencapai US$1 miliar.
Selain itu juga disebutkan, bahwa penyebab berhentinya usaha Soros adalah karena regulasi baru pemerintah AS yang dinamakan peraturan Dodd-Frank.
Dengan peraturan ini, Komisi Sekuritas dan Bursa AS memiliki wewenang memaksa para pengelola investasi asing dengan aset lebih dari US$150 juta (sekitar Rp1,2 triliun) untuk memberikan data mengenai perusahaan mereka, seperti jumlah dan kepemilikan dana, tipe klien, pegawai, aktivitas konsultasi hingga konflik kepentingan yang potensi muncul.
Sementara Soros akhirnya bisa mempersiapkan diri untuk melepas dokumen kerjanya, masih ada tiga miliarder senior di luar sana yang tampaknya memiliki setiap niat untuk mati dengan pekerjaan mereka, yakni investor Warren Buffett, Formula 1 supremo Bernie Ecclestone, dan raja media Rupert Murdoch.
Dengan kebetulan yang luar biasa, keempat pria tersebut ternyata tidak hanya memiliki semangat tak terpadamkan untuk bekerja, tetapi juga memiliki umur yang sama, yakni 80 tahun, dengan tanggal lahir yang hanya berselang beberapa bulan. Mereka ini kerap disebut Silver Foxes, yakni para pria yang menarik dan energik meski di usia tua.
Lalu, apa yang memicu mereka tidak menjadi seperti multijutawan lain, yang menetap dan mulai menghabiskan kekayaan mereka? Lebih tepatnya, kenapa mereka tidak bisa ini menyerahkan pekerjaan kepada generasi baru dan menikmati hidup?
Mereka tampaknya hanya tertarik pada pendapatan berikutnya, kesepakatan berikutnya dan kemenangan berikutnya. Bahkan, mereka tidak hanya mencari, tapi juga rindu akan tantangan berikutnya.
Skandal penyadapan telepon terakhir di News Corp mungkin menjadi hari paling menakjubkan untuk kehidupan Rupert Murdoch, tetapi juga sebagai seruan nyaring untuk kuda perang tua. Murdoch menegaskan bahwa ia "orang terbaik untuk membereskan masalah ini."
Begitu pula dengan Ecclestone, yang kini memiliki semua wolfpack nipping Formula 1 Wolfpack, tampaknya menikmati prospek drama pertempuran berikutnya.
Pierre van Goethem, wakil presiden dan penasihat keuangan UBS di Manhattan, yang juga salah seorang Silver Foxes mengatakan, beberapa orang adalah makhluk perusahaan, “Mereka hanya bermimpi untuk pensiun dengan kaya, sedangkan lainnya adalah profesional, yang bekerja karena gairah.” Demikian dilansir dari The Daily Beast.
Goethem telah bekerja di Wall Street selama 37 tahun, dan mulai aktivitasnya pukul 7.45 pagi, dan tidak pernah mengambil hari libur. Padahal usianya adalah 82 tahun.
"Banyak orang merasa terkungkung dengan kebosanan dan tidak nyaman dengan hidup, sehingga mereka menempatkan dirinya dalam posisi yang menyenangkan," kata van Goethem, yang tidak memiliki anak dan menjadi duda tahun lalu, setelah 40 tahun menikah.
"Bagi mereka, itu adalah satu-satunya cara mencapai tujuan. Bagi para manajer di Coca-Cola, Coke tidak pernah menjadi semangat. Mereka ingin membuat uang dan bermain golf. Mereka jauh dari apa yang saya sebut profesional, yang bergairah dengan apa yang mereka lakukan."
"Saya menikmati pekerjaan saya, dan jika pensiun, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan. Saya selalu membenci gagasan hobi. Saya pikir itu tidak masuk akal."
Van Goethem bekerja lima hari dalam sepekan, dan meskipun telah bepergian, tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan Manhattan lagi.
"Saya memiliki keseimbangan di Manhattan antara pekerjaan dan kehidupan sosial saya," katanya. "Saya bangun pagi-pagi, yang memungkinkan saya menelepon orang setelah makan siang di Eropa. Sekitar pukul 2:30 atau 3 sore, saya lelah dan pulang untuk tidur siang, kemudian saya akan siap lagi untuk apa pun."
"Saya tidak yakin, orang-orang yang memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktu bepergian dan pelesiran dengan kapal pesiar, akan segembira yang mereka pikir. Akan ada banyak polesan. Sementara Anda berkonsentrasi pada kegiatan yang berarti, mereka dapat menimbulkan masalah seperti lainnya. "
Untuk para profesional, pekerjaan merupakan tujuan utama dalam hidup mereka. Misalkan Rupert Murdoch, yang hidupnya adalah untuk media, bukan lainnya. “Orang-orang seperti Murdoch tidak bisa melakukan hal lain selain bekerja. Tidak mungkin. " [mdr]
sumber :
www.inilah.com
Bank Muamalat Targetkan Tambahan DPK Rp1 T
JAKARTA - PT Bank Muamalat Tbk menargetkan akan mendapatkan tambahan dana pihak ketiga (DPK) sekira Rp1 triliun dalam setahun dengan diluncurkannya kartu Shar-e Gold Debit.
Direktur Retail Bank Muamalat Adrian A Gunadi menambahkan, target jumlah kartu dalam setahun diperkirakan akan mencapai 300 ribu. "Di tahap pertama 300 ribu pemegang kartu. Ini akanmenyumbangkan terhadap DPK mininum Rp1 triliun," ungkap Adrian dalam konfrensi pers di Jakarta, Kamis (28/7/2011) malam.
Kartu Share-e Debit Muamalat sendiri bekerja sama dengan Visa sehingga nasabah bisa langsung belanja di merchant-merchant yang berlogo Visa di seluruh dunia.
"Ini sendiri untuk mengembangkan pasar ritel. Dengan kerja sama dengan Visa, Muamalat akan tingkatkan jumlah merchant. Bisa diakses ke seluruh dunia. Dan juga keamanan kartu ini sudah menggunakan chip. Ini terobosan untuk perbankan syariah di mana Muamalat jadi pioner kartu pertama teknologi chip," jelasnya panjang.
Menurut Adrian, kartu debit berteknologi chip baru digunakan dua bank. Untuk target pasar, dia mengaku akan mengejar masyarakat golongan menengah atas. Pasalnya saldo rata-rata antara Share-e reguler berbeda dengan Share-e Gold debit.
"Kartu ini segmennya menengah atas. Pembukaan awal minimum Rp500 ribu dengan saldo rata-rata rekening tidak kurang dari Rp8,5 juta. Jadi dengan segmen ini kita jalankan program reward dan loyalty," tambahnya.
Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia menjelaskan Visa adalah perusahaan penyedia sistem pembiayaan dan biasa digunakan di 170 negara di dunia yang menggunakan logo Visa.(wdi)
sumber :
www.okezone.com
Direktur Retail Bank Muamalat Adrian A Gunadi menambahkan, target jumlah kartu dalam setahun diperkirakan akan mencapai 300 ribu. "Di tahap pertama 300 ribu pemegang kartu. Ini akanmenyumbangkan terhadap DPK mininum Rp1 triliun," ungkap Adrian dalam konfrensi pers di Jakarta, Kamis (28/7/2011) malam.
Kartu Share-e Debit Muamalat sendiri bekerja sama dengan Visa sehingga nasabah bisa langsung belanja di merchant-merchant yang berlogo Visa di seluruh dunia.
"Ini sendiri untuk mengembangkan pasar ritel. Dengan kerja sama dengan Visa, Muamalat akan tingkatkan jumlah merchant. Bisa diakses ke seluruh dunia. Dan juga keamanan kartu ini sudah menggunakan chip. Ini terobosan untuk perbankan syariah di mana Muamalat jadi pioner kartu pertama teknologi chip," jelasnya panjang.
Menurut Adrian, kartu debit berteknologi chip baru digunakan dua bank. Untuk target pasar, dia mengaku akan mengejar masyarakat golongan menengah atas. Pasalnya saldo rata-rata antara Share-e reguler berbeda dengan Share-e Gold debit.
"Kartu ini segmennya menengah atas. Pembukaan awal minimum Rp500 ribu dengan saldo rata-rata rekening tidak kurang dari Rp8,5 juta. Jadi dengan segmen ini kita jalankan program reward dan loyalty," tambahnya.
Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia menjelaskan Visa adalah perusahaan penyedia sistem pembiayaan dan biasa digunakan di 170 negara di dunia yang menggunakan logo Visa.(wdi)
sumber :
www.okezone.com
Selasa, 26 Juli 2011
Krisis AS & Eropa Tak Bakal Pengaruhi Perkembangan Syariah
JAKARTA - Perlambatan ekonomi di negara maju nampaknya tidak akan berpengaruh pada perkembangan perekonomian bisnis syariah. Alasannya karena syariah banyak bergerak pada usaha kecil dan menengah (UKM).
Hal ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam acara permbukaan Joint High Level Confrence on Islamic Finance di Hotel Shangri La, Jakarta, Senin (18/7/2011).
"Rencana ke depan, sebetulnya perlambatan ekonomi karena apa yang terjadi di AS, maupun eropa dan bahkan mungkin di China, akan berpengaruh kepasar kita di Asean, Akan tetapi di indonesia pembiayaan syariah lebih pada usaha kecil dan menengah yang akan bertahan menghadapi krisis ini," jelas Darmin.
Oleh karena itu menurut Darmin Indonesia bisa belajar dari Malaysia untuk mengembangkan industri syariah ini.
"Malaysia sebetulnya sudah bergerak lebih dahulu. Pemerintah Malaysia juga memberi peranan yang sangat aktif di dalam pengambangan Islamic Finance ini. Sedangkan kita di Indonesia, kita lebih banyak mengandalkan kegiatan itu dari masyarakat, market driven," jelasnya.
Dan juga diadakannya confrence di Shangri La pada hari ini Darmin juga berharap ada kolaborasi pembiayaan antara perbankan syariah RI dan Malaysia, serta untuk meningkatkan kualitas industri syariah di Indonesia.
"Tujuan seminar atau konferensi ini adalah bagiamana supaya ada sinergi, ada kolaborasi antara pembiayaan atau perbankan syariah di RI dan Malaysia. Bagaimanapun juga kerja sama itu selain akan meningkatkan kualiti dari pembiayaan syariah, bisa juga memperluas pasar dan kerja sama regional selanjutnya," tambahnya.
"Kita juga ingin mengharapkan bahwa konferensi ini juga bisa berbicara mengenai hal hal yang lebih teknis syariah, yaitu masih ada perbedaan cara pandang, cara melihat, atau sikap dalam produk-produk tertentu di antara prinsip syariah yang dilihat dari sudut pandang para ulama di RI dan apa yang sudah berjalan," pungkasnya.
(wdi)
sumber ;
www.okezone.com
Hal ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam acara permbukaan Joint High Level Confrence on Islamic Finance di Hotel Shangri La, Jakarta, Senin (18/7/2011).
"Rencana ke depan, sebetulnya perlambatan ekonomi karena apa yang terjadi di AS, maupun eropa dan bahkan mungkin di China, akan berpengaruh kepasar kita di Asean, Akan tetapi di indonesia pembiayaan syariah lebih pada usaha kecil dan menengah yang akan bertahan menghadapi krisis ini," jelas Darmin.
Oleh karena itu menurut Darmin Indonesia bisa belajar dari Malaysia untuk mengembangkan industri syariah ini.
"Malaysia sebetulnya sudah bergerak lebih dahulu. Pemerintah Malaysia juga memberi peranan yang sangat aktif di dalam pengambangan Islamic Finance ini. Sedangkan kita di Indonesia, kita lebih banyak mengandalkan kegiatan itu dari masyarakat, market driven," jelasnya.
Dan juga diadakannya confrence di Shangri La pada hari ini Darmin juga berharap ada kolaborasi pembiayaan antara perbankan syariah RI dan Malaysia, serta untuk meningkatkan kualitas industri syariah di Indonesia.
"Tujuan seminar atau konferensi ini adalah bagiamana supaya ada sinergi, ada kolaborasi antara pembiayaan atau perbankan syariah di RI dan Malaysia. Bagaimanapun juga kerja sama itu selain akan meningkatkan kualiti dari pembiayaan syariah, bisa juga memperluas pasar dan kerja sama regional selanjutnya," tambahnya.
"Kita juga ingin mengharapkan bahwa konferensi ini juga bisa berbicara mengenai hal hal yang lebih teknis syariah, yaitu masih ada perbedaan cara pandang, cara melihat, atau sikap dalam produk-produk tertentu di antara prinsip syariah yang dilihat dari sudut pandang para ulama di RI dan apa yang sudah berjalan," pungkasnya.
(wdi)
sumber ;
www.okezone.com
Label:
bisnis syariah,
indonesia,
krisis as dan eropa,
malaysia
Kerjasama Industri Keuangan Syariah RI-Malaysia
Berbagi Pengalaman tentang Industri Keuangan Syariah dengan Tetangga
Wakil Presiden Boediono membuka konferensi keuangan syariah
Jakarta. Para pelaku usaha di bidang industri keuangan umumnya menyadari bahwa Indonesia adalah ladang subur bagi industri finansial berbasis syariah. Tahun lalu, pertumbuhan aset perbankan syariah di Indonesia mencapai 47%. "Jauh di atas tingkat pertumbuhan rata-rata pertumbuhan perbankan syariah global yang hanya berkisar 10% hingga 20%," tutur Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution. Fakta inilah yang mendasari langkah Bank Indonesia dan Pemerintah RI untuk terus berupaya meningkatkan porsi perbankan syariah, yang berdasarkan aset saat ini baru mencapai 3,1% saja dari total perbankan nasional.
Salah satu upaya itu adalah dengan belajar dari negeri jiran Malaysia, yang sudah jauh lebih maju daripada Indonesia dalam hal industri finansial berbasis syariah. Maka, Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia menyelenggarakan Joint High Level Conference on Islamic Finance. Wakil presiden (Wapres) Boediono membuka konferensi itu, Senin 18 Juli 2011 di Hotel Shang-Rilla Jakarta. Forum ini membahas berbagai soal. Mulai dari upaya penciptaan lingkungan ideal bagi industri keuangan berbasis syariah; standar akuntansi syariah; saling berbagi pengalaman teknis; pengembangan infrastruktur; harmonisasi regulasi; hingga pengembangan jaringan bisnis. Turut hadir dalam konferensi ini Raja Muda Perak Raja Nazrin Shah, duta besar negara-negara sahabat, serta para bankir-bankir syariah dari Indonesia dan Malaysia.
Wapres Boediono menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas penyelenggaraan konferensi yang menurutnya sangat penting ini. Sebab, industri keuangan berbasis syariah sudah menjdi tren global, bukan hanya tumbuh subur di negeri-negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Inggris, misalnya, berminat mengembangkan pasar sukuk, dengan total nilai sukuk mencapai US$ 19 miliar pada semester pertama 2011. Menurut laporan IDB-IFSB, April 2010, secara global, ada sekitar lima ratus Lembaga Keuangan Islam. Pertumbuhan aset lembaga-lembaga ini juga sangat pesat, dari US$ 639 miliar pada 2008, menjadi US$ 822 miliar pada 2009, tumbuh hampir 29%. Sebagai pembanding, dalam periode yang sama, seribu bank konvensional paling top di dunia mencapai pertumbuhan aset tahunan hanya 6%-7%.
Agar tidak tertinggal dari perkembangan pesat ini, Indonesia memang harus belajar dari Malaysia. Negeri jiran ini adalah salah satu pemain penting yang sudah cukup berhasil mengembangkan industri finansial berbasis syariah. Malaysia sudah mengembangkannya sejak 1983, hampir sepuluh tahun lebih dahulu daripada Indonesia. Kini Malaysia adalah pemain utama di pasar sukuk, obligasi dengan prinsip syariah, di pasar global. Dari total penerbitan sukuk di pasar global senilai US$ 50 miliar pada 2010, Malaysia menerbitkan US$ 33 miliar di antaranya. Bandingkan dengan Indonesia yang baru mulai aktif bepartisipasi dalam pasar sukuk global dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada 2010 Indonesia baru menerbitkan sukuk senilai US$ 3 miliar, sama dengan penerbitan sukuk Arab Saudi. Pada tahun yang sama, Qatar menerbitkan sukuk senilai US$ 2 miliar, sedangkan Pakistan dan UAE masing-masing sekitar US$ 900 juta.
Selain menyampaikan apresiasinya, Wapres Boediono menitipkan pesan penting kepada para pelaku industri keuangan berbasis syariah. Ada dua karakteristik penting industri keuangan berbasis syariah yang jangan sampai terlepas atau terlupakan. Dua karakter itu adalah: Pertama, produk keuangan berbasis syariah sudah mempunyai rambu-rambu khusus dalam mengurangi risiko terlepasnya keterkaitan atau decoupling antara kegiatan keuangan dan kegiatan sektor riil. Kedua, produk keuangan berbasis syariah juga berhasil menurunkan decoupling antara risiko dengan imbalan. "Dua decoupling inilah yang menjadi sumber malapetaka krisis menimpa pasar global pada 2008-2009. Saya sangat mengharapkan keunggulan syariah ini dapat dipertahankan," pesan Wapres saat mengawali sambutannya.(Selengkapnya lihat sambutan Wapres di rubrik Ruang Media )
Tampaknya, dalam konferensi ini kedua negara memang bisa saling belajar. Dalam ungkapan Darmin Nasution, Indonesia ingin belajar dari pengalaman Malaysia yang berhasil mengembangkan industri keuangan berbasis syariah melalui pendekatan top down yang didukung penuh otoritas moneter dan pemerintah. Sementara Malaysia tentu juga bisa belajar banyak dari Indonesia yang lebih cenderung memakai strategi bottom up, mengandalkan dukungan masyarakat dan berbagai strata.
Hubungan kedua tetangga terdekat yang harmonis di bidang industri keuangan juga mewarnai sambutan Gubernur Bank Negara Malaysia Zeti Akhtar Aziz. Ia pun menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya berlangsung pada sistem keuangannya saja, tetapi juga meliputi pendidikan sistem keuangan syariah. Sebab, sumber daya manusia adalah faktor yang sangat penting bagi pengembangan sistem keuangan syariah. Maka, “Kami telah menjalin kerjasama di bidang pendidikan keuangan syariah antara International Center for Education Malaysia dan tujuh Perguruan Tinggi di Indonesia,” ujar Zeti. (Bey Machmuddin)
sumber :
www.wapresri.go.id
Langganan:
Postingan (Atom)