Selasa, 26 Juli 2011

Kerjasama Industri Keuangan Syariah RI-Malaysia


Berbagi Pengalaman tentang Industri Keuangan Syariah dengan Tetangga
Wakil Presiden Boediono membuka konferensi keuangan syariah


Jakarta. Para pelaku usaha di bidang industri keuangan umumnya menyadari bahwa Indonesia adalah ladang subur bagi industri finansial berbasis syariah. Tahun lalu, pertumbuhan aset perbankan syariah di Indonesia mencapai 47%. "Jauh di atas tingkat pertumbuhan rata-rata pertumbuhan perbankan syariah global yang hanya berkisar 10% hingga 20%," tutur Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution. Fakta inilah yang mendasari langkah Bank Indonesia dan Pemerintah RI untuk terus berupaya meningkatkan porsi perbankan syariah, yang berdasarkan aset saat ini baru mencapai 3,1% saja dari total perbankan nasional.

Salah satu upaya itu adalah dengan belajar dari negeri jiran Malaysia, yang sudah jauh lebih maju daripada Indonesia dalam hal industri finansial berbasis syariah. Maka, Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia menyelenggarakan Joint High Level Conference on Islamic Finance. Wakil presiden (Wapres) Boediono membuka konferensi itu, Senin 18 Juli 2011 di Hotel Shang-Rilla Jakarta. Forum ini membahas berbagai soal. Mulai dari upaya penciptaan lingkungan ideal bagi industri keuangan berbasis syariah; standar akuntansi syariah; saling berbagi pengalaman teknis; pengembangan infrastruktur; harmonisasi regulasi; hingga pengembangan jaringan bisnis. Turut hadir dalam konferensi ini Raja Muda Perak Raja Nazrin Shah, duta besar negara-negara sahabat, serta para bankir-bankir syariah dari Indonesia dan Malaysia.

Wapres Boediono menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas penyelenggaraan konferensi yang menurutnya sangat penting ini. Sebab, industri keuangan berbasis syariah sudah menjdi tren global, bukan hanya tumbuh subur di negeri-negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Inggris, misalnya, berminat mengembangkan pasar sukuk, dengan total nilai sukuk mencapai US$ 19 miliar pada semester pertama 2011. Menurut laporan IDB-IFSB, April 2010, secara global, ada sekitar lima ratus Lembaga Keuangan Islam. Pertumbuhan aset lembaga-lembaga ini juga sangat pesat, dari US$ 639 miliar pada 2008, menjadi US$ 822 miliar pada 2009, tumbuh hampir 29%. Sebagai pembanding, dalam periode yang sama, seribu bank konvensional paling top di dunia mencapai pertumbuhan aset tahunan hanya 6%-7%.

Agar tidak tertinggal dari perkembangan pesat ini, Indonesia memang harus belajar dari Malaysia. Negeri jiran ini adalah salah satu pemain penting yang sudah cukup berhasil mengembangkan industri finansial berbasis syariah. Malaysia sudah mengembangkannya sejak 1983, hampir sepuluh tahun lebih dahulu daripada Indonesia. Kini Malaysia adalah pemain utama di pasar sukuk, obligasi dengan prinsip syariah, di pasar global. Dari total penerbitan sukuk di pasar global senilai US$ 50 miliar pada 2010, Malaysia menerbitkan US$ 33 miliar di antaranya. Bandingkan dengan Indonesia yang baru mulai aktif bepartisipasi dalam pasar sukuk global dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada 2010 Indonesia baru menerbitkan sukuk senilai US$ 3 miliar, sama dengan penerbitan sukuk Arab Saudi. Pada tahun yang sama, Qatar menerbitkan sukuk senilai US$ 2 miliar, sedangkan Pakistan dan UAE masing-masing sekitar US$ 900 juta.

Selain menyampaikan apresiasinya, Wapres Boediono menitipkan pesan penting kepada para pelaku industri keuangan berbasis syariah. Ada dua karakteristik penting industri keuangan berbasis syariah yang jangan sampai terlepas atau terlupakan. Dua karakter itu adalah: Pertama, produk keuangan berbasis syariah sudah mempunyai rambu-rambu khusus dalam mengurangi risiko terlepasnya keterkaitan atau decoupling antara kegiatan keuangan dan kegiatan sektor riil. Kedua, produk keuangan berbasis syariah juga berhasil menurunkan decoupling antara risiko dengan imbalan. "Dua decoupling inilah yang menjadi sumber malapetaka krisis menimpa pasar global pada 2008-2009. Saya sangat mengharapkan keunggulan syariah ini dapat dipertahankan," pesan Wapres saat mengawali sambutannya.(Selengkapnya lihat sambutan Wapres di rubrik Ruang Media )

Tampaknya, dalam konferensi ini kedua negara memang bisa saling belajar. Dalam ungkapan Darmin Nasution, Indonesia ingin belajar dari pengalaman Malaysia yang berhasil mengembangkan industri keuangan berbasis syariah melalui pendekatan top down yang didukung penuh otoritas moneter dan pemerintah. Sementara Malaysia tentu juga bisa belajar banyak dari Indonesia yang lebih cenderung memakai strategi bottom up, mengandalkan dukungan masyarakat dan berbagai strata.

Hubungan kedua tetangga terdekat yang harmonis di bidang industri keuangan juga mewarnai sambutan Gubernur Bank Negara Malaysia Zeti Akhtar Aziz. Ia pun menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya berlangsung pada sistem keuangannya saja, tetapi juga meliputi pendidikan sistem keuangan syariah. Sebab, sumber daya manusia adalah faktor yang sangat penting bagi pengembangan sistem keuangan syariah. Maka, “Kami telah menjalin kerjasama di bidang pendidikan keuangan syariah antara International Center for Education Malaysia dan tujuh Perguruan Tinggi di Indonesia,” ujar Zeti. (Bey Machmuddin)

sumber :
www.wapresri.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar